New address – Alamat baru

We’re moving — please visit http://www.cephasphotoforum.org/

Kami pindah — sila kujungi http://www.cephasphotoforum.org/

Thank you — Terimakasih :)

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Cephas Photo Forum Presentation: Passion for Fashion by Niken Pamikatsih & Vira Citra

NIKEN PAMIKATSIH dan SYEVIRA CITRA HEBRINA adalah dua siswa Kelas Pagi Yogyakarta yang memilih untuk menekuni fotografi fashion. Pada kesempatan ini, Niken dan Vira akan mempresentasikan karyanya di dalam tema PASSION FOR FASHION.

Melalui presentasi ini, Niken dan Vira akan berbagi soal passion mereka di dalam menekuni fotografi fashion, mengenai impian mereka sebagai aspiring fashion photographers. Bagaimana proses belajar yang mereka lalui, bagaimana proses kreatif mereka di dalam bekarya, bagaimana mereka bermain-main dengan imajinasi dan menggali ide, apa yang mau mereka sampaikan melalui karya mereka, dan sebagainya.

Keduanya saat ini sedang menempuh tugas akhir di Kelas Pagi Yogyakarta di bawah bimbingan Anton Ismael, fotografer komersial yang mendirikan Kelas Pagi pertama di Jakarta pada 2006.

Rabu, 13 April 2011, 18.30–21.30
bertempat di Literati Public Library
Perum Bima Kencana I Condong Catur,
Depok, Sleman, Yogyakarta

(Peta lokasi)

Tidak dipungut biaya dan terbuka untuk umum.

* * * * * * *

NIKEN PAMIKATSIH (NIKEN) adalah mahasiswa semester akhir Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM. Mengenal fotografi sejak memiliki kamera saku pada 2007, kemudian mendapat kamera DSLR pada 2009, kemudian aktif belajar fotografi di beberapa komunitas: Fotografer Amatir Yogyakarta (KOPATA) dan Alpharian.com. Pertengahan 2010 ia mengalami retak kaki karena kecelakaan. Namun hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar. Kemudian ia memutuskan masuk Kelas Fashion Kelas Pagi Yogyakarta. —http://mylittlelolipop.wordpress.com/

SYEVIRA CITRA HEBRINA (VIRA) adalah fotografer pemula yang berdomisili di Yogyakarta, freelance, sedang bekerja pada sebuah majalah lokal dan aktif sebagai siswa Kelas Pagi Yogyakarta. Mulai belajar fotografi secara otodidak pada tahun 2006 hingga sekarang. Proyek foto “Alter Ego” ini telah dipamerkan di Pameran HALO #2 Kelas Pagi Yogyakarta dan dipublikasikan di Exposure Magz edisi April 2011 pada rubrik My Project. — http://viracitra.blogspot.com/

Posted in Presentation | Tagged , , , | Leave a comment

Presentasi WORKING WITH LONG TERM PROJECT oleh Hilde Janssen

Comfort Women invitation

COMFORT WOMEN

“Shame, stigma, and feelings of guilt have made them maintain silence about their wartime experiences for decades.” – Hilde Janssen

Comfort Women adalah seri potret karya Jan Banning tentang perempuan Indonesia yang dipaksa menjadi “penghibur” bagi pasukan Jepang (Jugun ianfu) pada masa pendudukan Jepang di Nusantara, di tengah berlangsungnya Perang Dunia II. Di mata mereka tersimpan masa lalu yang kelam. Para perempuan ini memberanikan diri meretas “aib” yang selama ini mereka sembunyikan.

Comfort Women adalah projek bersama yang digarap oleh jurufoto Jan Banning dang wartawan Hilde Janssen. Potret dan wawancara dilakukan seluruhnya di dalam jangka waktu Juni 2007 hingga Juli 2009.

Di dalam presentasi ini, Hilde Janssen akan berbagi pengalaman selama proses mengerjakan projek ini. Hilde akan bercerita tentang ide, riset, pendekatan, dan hal-hal lain yang terkait dengan mengerjakan projek jangka panjang.

Presentasi ini gratis dan terbuka untuk umum.

* * *

JAN BANNING (lahir 1954, orangtuanya lahir di Hindia-Belanda) pernah memenangkan Penghargaan World Press Photo untuk seri Birokrat (2004), tentang birokrasi di India. Pada 2002, Jan Banning mengerjakan projek Traces of War: Survivors of the Burma and Sumatra Railways. Dari projek Comfort Women, Jan Banning menerbitkan buku berisi potret yang dia buat dan petikan wawancara yang dilakukan oleh Hilde Janssen, berjudul Comfort Women / Troostmeisjes. — http://www.janbanning.com/

HILDE JANSSEN (lahir 1959) adalah wartawan yang punya latar belakang pendidikan antropologi. Selama lima belas tahun terakhir ini dia bekerja di Asia dan tinggal di India dan Indonesia. Dari projekComfort Women, Hilde Janssen menerbitkan buku Schaamte en Onschuld: Het verdrongen oorlogsverleden van troostmeisjes in Indonesië (Aib Tanpa Dosa: Kebisuan Jugun Ianfu di Indonesia tentang Masa Kelabu). — http://www.hildejanssen.nl/

* * *

Pameran foto COMFORT WOMEN (A joint project by photographer Jan Banning and journalist Hilde Janssen)
Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodiningratan 37, Yogyakarta
Pembukaan: Sabtu, 26 Maret 2011, 19.30
Pameran berlangsung hingga 11 April 2011

Cephas Photo Forum: Presentasi WORKING WITH LONG TERM PROJECT oleh Hilde Janssen
Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodinigratan 37, Yogyakarta
Senin, 28 Maret 2011, 18.30

Posted in Presentation | Tagged , , | Leave a comment

Film Screening: National Geographic – The Photographers

NATIONAL GEOGRAPHIC: THE PHOTOGRAPHERS (1995)

(English, no subtitle)

“Often letting the works speak for themselves, this compelling documentary looks into the lives of veteran National Geographic photographers and the grueling work that goes into their award-winning images. The photographers provide detailed accounts of their preparation, the dangers they’ve encountered and the physical trials they’ve endured.”

=========================================

Cephas Photo Forum kali ini akan mengadakan acara yang berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kami mengajak rekan-rekan untuk nonton bareng sebuah film produksi National Geographic, berjudul “THE PHOTOGRAPHERS” (1995).

Film dokumenter ini mengisahkan pengalaman para jurufoto yang bekerja untuk National Geographic. Bagaimana mereka melakukan persiapan sebelum menjalankan penugasan, menghadapi tantangan dan marabahaya di lapangan, dan mengatasi cobaan fisik selama bekerja, sehingga mereka dapat menghasilkan gambar-gambar yang luar biasa.

Pemutaran film ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Setelah pemutaran film, kita bisa mengobrol sedikit, ditemani jajanan angkringan sorpelem yang ada di Rumah Kelas Pagi Yogyakarta.

Kami tunggu kehadiran rekan-rekan sekalian.

=========================================

Kelas Pagi Yogyakarta
Jalan Brigjen Katamso, Prawirodirjan,
GM II/1226, Yogyakarta

Kamis, 3 Maret 2011, 18.30

Posted in Film/Movie | Tagged | 1 Comment

Notulensi Diskusi Terbuka “Menengok Merapi: Informasi dan Sensasi Pemberitaan Erupsi”

Pembicara:

  • Dwi Oblo | Fotografer
  • Indrawan (Capung) | Komunitas Lereng Merapi

 

Moderator:   Raditya Jati (Staf Pengajar Fakultas Geografi UGM)

Jumat, 18 Februari 2011

Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta

3.27 pm  Pembukaan oleh Marie – LIP, pembukaan oleh Naga – CEPHAS Photo Forum

3.36 pm Moderator membuka acara.

 

Pembicara I | Capung:

Komunitas Lereng Merapi merupakan paguyuban atas dasar kesepakatan masyarakat di 4 kabupaten daerah merapi. Dirasa perlu sejak menyadari pentingnya menjadi satu keluarga dalam memantau gunung Merapi, tidak bisa dari satu sisi. Menyediakan informasi untuk akses ke merapi terutama untuk reporter, dan juga informasi vulkanologi. Pendanaan berasal dari swadaya masyarakat.

Pembicara II | Dwi Oblo:

Profesi sebagai stringer di kantor berita Reuters. Kejadian yang memiliki nilai berita tinggi salah satunya adalah bencana alam. Merapi sebagai gunung teraktif di dunia menjadi fokus berita yang memiliki nilai berita tinggi. Sebagai fotografer, untuk mendapatkan foto jelas harus mendekat pada subyek foto, tidak bisa hanya lewat telepon seperti wartawan tulis misalnya.

Pada saat erupsi kemarin, sejak status Merapi masuk pada “siaga”, para stringer tersebut sudah ditugaskan untuk stand by di Merapi. Ada beberapa foto yang salah nama, milik Argo namun menjadi Clara Prima, AFP.

Setiap saat berkoordinasi dengan kantor, akan membuat foto seperti apa lagi. Kendala akses masuk lumayan besar. Setiap hari harus update Merapi seperti apa, itu yang sedikit banyak membuat lelah. Tekanan yang ada karena wilayah rumah masuk ke dalam zona bahaya (22km) sempat mebuat stress karena harus memikirkan keluarga untuk mengungsi dan juga tetap harus mendapatkan foto. Dari kantor berita sendiri selalu mewanti-wanti agar para fotografernya menuruti perintah pemerintah untuk keamanan, namun di sisi lain mereka juga selalu menanyakan apakah mereka mempunyai foto di lokasi. Ini menjadi satu hal yang ambigu yang terkadang membingungkan fotografer dalam bertindak. Foto Merapi tahun 2010 ada yang memenangkan WPP à Kemal Jufri. Karena Merapi merupakan isu besar bahkan sampai internasional, maka para fotografer pun menjadi merasa harus mendapatkan foto.

Didit:

Safety dalam meliput menjadi kebutuhan yang primer bagi fotografer dan juga link untuk akses ke lokasi.

Penanya:

Ana:

1. Berapa jauh rencana pemerintah untuk memindahkankan pemukiman penduduk?

2. Tentang tekanan yang ada untuk mendapatkan foto. Etika, foto yang bagus itu seperti apa dalam situasi itu? Berapa jauh hak pribadi orang dihormati? Di Jerman fotografer dilarang masuk ke RS begitu saja.

Jawaban:

  1. Capung: Pemerintah memandang kegiatan KLM sebagai bentuk arogansi, karena kami memantau Merapi, maka dinilai kami mendukung mereka untuk tetap berada di sana. Jadi sebenarnya KLM dan pemerintah memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Karena selama ini yang terjadi, relokasi itu tidak berjalan maksimal, penduduk tetap saja menghendaki untuk kembali ke rumahnya.
  2. Dwi Oblo: Polemik yang tidak ada habisnya. Karena ketika berbicara etika, etika yang mana? Jika memang bencana memiliki dampak yang demikian, mengapa tidak dikatakan? Foto bagus juga merupakan hal yang relatif, bagusnya kantor berita mungkin tidak bagus bagi penduduk, namun kita harus memilih. Ada kawan seorang wartawan yang memutuskan untuk menyimpan kameranya dan menolong penduduk pada saat itu. Mengenai izin ke RS, itulah bedanya dengan di Jerman, di Indonesia masih relatif bebas untuk akses ke RS.

Elizabeth:

  1. Sampai sekarang pemerintah belum menawarkan lokasi baru pada warga Kinahrejo. Namun ada beberapa juga yang memlih untuk hidup di lokasi relokasi karena trauma yang besar dan takut untuk kembali ke daerah mereka. Adanya angin kencang yang beberapa waktu lalu merusak shelter telah membuat trauma baru pada para penyitas. Jadi seharusnya pemerintah menyediakan dulu tempat yang aman.

Jawaban:

  1. Didit: Skenario evakuasi kali ini memang masih kacau. Tidak ada yang menyangka zona bahaya akan menjadi seluas ini.
  2. Capung: Berdasarkan intuisi, kemungkinan akan ada awan panas lagi, secara konstruksi itu memungkinkan. Mengenai relokasi, ada kas desa yang akan dibangun untuk relokasi di Kinahrejo.

Bagas:

  1. Segera susun kode etik fotografer, karena ketika foto-foto dan gambar tidak layak untuk dipublish ya jangan dipublish. Mungkin tidak masalah jika dalam konteks untuk pendidikan, namun jika dalam konteks mencari sensasi dan hadiah, itu menjadi hal yang ironis. Saat proses evakuais Mbah Maridjan, ada kesepakatan bahwa kamera dan handycam harus disimpan, terkait dengan masalah privasi, namun ternyata bocor dan beritanya sudah naik, berarti ada pelanggaran kesepakatan. Yang saya takutkan, momen-momen mengharukan nantinya hanya akan menjadi komoditas.

Jawaban:

  1. Dwi Oblo: Ketika saya motret selalu ada dilemma untuk dipublish atau tidak. Kalau mengenai kode etik, ada PFI. Namun sejauh mana kode etik itu dijalankan, saya juga tidak tahu. Ada juga Dewan Pers yang bertanggung jawab atas media yang telah publish.
  2. Budi: Kami juga punya keprihatinan yang sama mengenai hal itu. Namun dalam banyak hal, kami di lapangan juga tidak memiliki banyak pilihan. Mendokumentasikan dan mempublikasikan adalah dua hal yang berbeda. Mengenai foto yang ikut lomba dan menang dengan foto tersebut, menurut saya fair-fair saja, hanya saja apakah kemudian berhenti sampai di situ itu kembali pada masing-masing individu. Apakah si fotografer merasa memiliki tanggung jawab lain ya kembali pada mereka. Jika ditanya siapa yang paling diuntungkan dengan foto itu, okelah fotografer pasti mendapatkan keuntungan jika memenangkan kontes, namun yang perlu dicatat adalah, peran foto itu sendiri ya memberitahukan pada khalayak luas dan kemudian bantuan bisa datang. Semua memiliki peran masing-masing, fotografer ya perannya memotret.

Wahyudi:

  1. Pemberitaan Merapi kebanyakan dari Selatan, dari Utara sangat jarang. Saya mengambil gambar untuk KLM pun nggak tenang, karena tujuan utama kami memang bukan untuk mengambil gambar melainkan menolong para penyitas. Jadi memang di lapangan itu pikiran kami selalu terbelah-belah dan dihampiri dilemma yang banyak. Namun saya pun tidak mengambil gambar semata-mata untuk mencari untung.

Elizabeth:

  1. Ini merupakan salah satu bukti jika kita merupakan relawan, kita akan mendapatkan gambar yang jauh lebih menarik. Sebaiknya kita tidak melihat semua secara kotak-kotak, sebagai fotografer, sebagai wartawan, sebagai relawan, tentu tidak. Kita melihat sebagai manusia, tidak bisa kita mengacuhkan hal tersebut.

Wahyudi:

  1. Kami cuma pikirkan pada saat itu, saya punya anak, dan anak saya kelak akan punya anak lagi. Saya mengambil gambar-gambar tersebut salah satunya untuk warisan dunia, untuk disampaikan lagi pada orang lain sebagai bahan pelajaran vulkanologi.

Himawan:

  1. Saya satu kali ikut evakuasi korban, sambil motret saya berpikir, saya bukan seorang hero, dan bukan orang yang hidup dari foto saya jika cara saya mendapatkan foto dengan cara seperti ini. Sejak saat itu saya memutuskan tidak akan datang ke Merapi lagi untuk memotret. Kegelisahan saya itu kemudian saya lampiaskan pada media yang lain. Bagi saya media menjadi tidak penting. Saya kemudian beralih ke kriya, segala kegelisahan itu saya tuangkan lewat kriya. Cara saya mendokumentasikan Merapi tidak dengan foto lagi.

Didit:

Kesimpulan:

-Perlu ada SOP tanggap bencana

Posted in Summary | Tagged , , , | Leave a comment

Presentation Summary: Foundry Photojournalism Workshop by Doni Maulistya & Mervyn Leong

Oleh Saila Muti Rezcan

Bertempat di Angkringan Yayasan Umar Kayam Sawit Sari, Kamis 17 Februari 2011 lalu CEPHAS Photo Forum kembali menggelar forum regulernya. Meski dengan tempat seadanya serta peserta yang tidak terlalu banyak karena pemberitahuan yang lumayan mendadak, namun forum ini berjalan dengan seru. Mervyn Leong, seorang warga negara  Malaysia yang tahun lalu mengikuti Foundry Photojournalism Workshop di Istanbul Turki ingin membagi sedikit ceritanya pada forum reguler kali ini. Selain Mervyn, ada pula Doni Maulistya – salah satu pendiri CEPHAS Photo Forum yang juga berpartisipasi dalam Foundry Photojournalism Workshop bersama Mervyn tahun lalu.

Berbeda dengan workshop fotografi pada umumnya yang memiliki batasan usia bagi peserta – umumnya 28 tahun ke bawah, Foundry tidak memiliki persyaratan tersebut. Bahkan pernah ada peserta yang berusia 68 tahun. Semangat yang diusung dalam Foundry ialah semangat untuk sharing atau berbagi. Maksudnya, ketika kita memiliki pengetahuan tentang sesuatu, kita wajib membaginya dengan peserta lain, sehingga ilmu-ilmu yang didapat selama workshop tidak menjadi milik personal melainkan komunal. Hal ini tentu saja menguntungkan karena ilmu yang didapat tidak terbatas pada materi-materi workshop tetapi juga berasal dari seluruh peserta workshop.

Dalam presentasinya, Mervyn menampilkan sebuah story tentang Hammam – sebutan untuk pemandian air panas di Turki di mana terdapat keunikan-keunikan yang hanya bisa ditemui di sana. Misalnya, di sana terdapat layanan untuk memijit, memandikan bahkan mencucikan rambut. Semuanya ditampilkan Mervyn dalam foto-fotonya, bagaimana seorang pelanggan di  Hammam dilayani mulai dari awal hingga selesai. Sedangkan Doni memilih untuk bercerita tentang sesuatu yang dekat dengannya: rokok. Story dengan judul “Smoke” yang ditampilkan Doni memiliki kesan sederhana namun terasa proximity-nya. Domi pun mengaku bahwa ia memilih untuk membuat story yang dekat dengan dirinya sendiri agar lebih nyaman dalam prosesnya. Mervyn dan Doni pun sepakat jika saat mengikuti workshop sebaiknya peserta tidak terlalu stress memikirkan tema apa yang akan digunakan untuk membuat story. Jangan terjebak pada ide-ide yang “terlalu besar”, karena terkadang hal-hal personal yang sederhana pun bisa menjadi sesuatu yang menarik. Yang terpenting dari sebuah tema ialah ketika si fotografer nyaman dengan tema tersebut, serta memungkinkan untuk dieksekusi, mengingat workshop memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu seperti waktu.

Dalam forum ini mereka berdua lebih banyak bercerita tentang proses pembuatan workshop itu sendiri dibandingkan dengan hasilnya. Selama workshop Doni mengaku banyak bersilang pendapat dengan mentornya, Stephanie. Mereka memiliki pandangan yang berbeda mengenai konsep intimacy, di mana Doni menganggap intimacy merupakan sesuatu yang ada pada saat proses memotret, bagaimana kita sebagai fotografer melakukan pendekatan dengan objeknya dan membuat mereka merasa nyaman dengan kehadiran kita. Di sisi lain, Stephanie memiliki pandangan bahwa intimacy adalah suatu hal yang ditampilkan dalam foto – bukan proses memperoleh foto itu sendiri. Perbedaan ini wajar terjadi mengingat Stephanie memang lebih banyak memotret news di mana aktualisasi merupakan faktor yang penting, sedangkan Doni bukan fotografer news sehingga ia jarang dituntut untuk memotret secara cepat.

Tak jauh berbeda dari forum yang lalu mengenai Angkor Photo Workshop, hal yang bisa kita pahami di sini ialah workshop sebagai ajang untuk mendapatkan energi baru dan sebaiknya jangan terlalu ambisius dalam membuat story foto, nikmati saja semua proses yang ada.

 

Posted in Summary | Tagged , , | Leave a comment

Diskusi Terbuka: MENENGOK MERAPI – Informasi dan Sensasi Pemberitaan Erupsi

Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta bekerjasama dengan Cephas Photo Forum mempersembahkan

Diskusi terbuka
MENENGOK MERAPI
Informasi dan Sensasi Pemberitaan Erupsi

Erupsi Gunung Merapi akhir tahun lalu masih segar di dalam ingatan kita. Masih kita ingat pula betapa gencarnya media memberitakan erupsi yang konon terbesar di dalam seratus tahun terakhir ini. Gencarnya pemberitaan ini tentu tidak lepas dari persaingan media, yang kemudian berlomba-lomba melakukan peliputan langsung dari lapangan. Seorang reporter stasiun televisi bahkan menyebut, “Melaporkan langsung dari puncak Merapi.”

Bagaimana wartawan mengelola informasi yang diperolehnya di lapangan dan bagaimana informasi itu kemudian disebarluaskan melalui media, akan kita diskusikan bersama Dwi Oblo, seorang pewarta foto Kantor Berita Reuters.

Tinggal di kaki gunung berapi, semestinya kita memiliki pengertian untuk hidup bersama risiko. Pemahaman risiko-risiko yang mungkin timbul karena letak geografis tersebut diharapkan dapat meminimalkan kerugian ketika terjadi bahaya. Capung, seorang pegiat Komunitas Lereng Merapi, akan berbagi pengalamannya mengelola potensi masyarakat lereng Merapi agar tanggap terhadap risiko-risiko yang ada. Termasuk pengalamannya terlibat aktif di dalam sejumlah operasi penyelamatan selama Merapi menyandang status Awas.

Diskusi terbuka ini akan dipandu oleh Raditya Jati, jurufoto lepas yang juga seorang staf pengajar Fakultas Geografi UGM.

Jumat, 18 Februari 2011, 15.00–17.00
Auditorium Lembaga Indonesia Prancis
Jalan Sagan 3, Yogyakarta

Gratis dan terbuka untuk umum

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment