Presentation Summary: Trans Islam

Oleh: Saila Muti Rezcan

Saat ini transseksual masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan secara gamblang. Disorientasi seksual masih merupakan “dosa” bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka masih mendapatkan diskriminasi yang nyata pada sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, misalnya saja hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Seolah-olah kesempatan untuk bekerja layaknya orang  normal langsung tertutup tepat saat mereka menyatakan bahwa mereka adalah transseksual. Stigma masyarakat yang mengatakan mereka imoral, membuat mereka terisolasi dari dunia dan dipaksa membangun dunianya sendiri. Mereka lantas membentuk sebuah kelompok, sebuah komunitas, yang menjalani hidup dengan caranya sendiri.

Rabu, 13 Oktober 2010 bertempat di Angkringan Yayasan Umar Kayam Sawitsari, CEPHAS Photo Forum mengajak teman-teman semua untuk menghadiri presentasi foto serta diskusi rutin bertajuk “Trans Islam” oleh Karolus Naga. Kali ini Naga menghadirkan cerita tentang Pondok Pesantren khusus transseksual bernama “Pesantren Senen-Kamis” yang berada di Notoyudan, Yogyakarta. Ia ingin bercerita bahwa bagaimanapun juga, transseksual tetaplah manusia, sama seperti kita.

 

© Budi N.D. Dharmawan

 

Maryani (48), paham betul bahwa pilihannya untuk menjadi transseksual bertentangan dengan ajaran Agama Islam. Namun saat ini ia menjalani keduanya: transseksual dan Islam. Ia mendirikan Pondok Pesantren “Senen-Kamis” karena ia menyadari, terlepas dari dosa-tidaknya pilihan tersebut, seorang transseksual pun tetap membutuhkan sesuatu untuk penyelamatan: agama. Untuk itu ia mencoba melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk dirinya sendiri dan teman-temannya sesama transseksual, ia mencoba menyediakan media bagi mereka untuk belajar agama.

Foto-foto yang dihadirkan Naga memang tak banyak menunjukkan bagaimana mereka berkegiatan di Pondok Pesantren tersebut. Ia menghadirkan foto kehidupan mereka secara utuh: apa yang mereka lakukan sehari-hari, bagaimana mereka bekerja keras mencari uang, serta hubungan mereka dengan sesame manusia, baik yang transseksual maupun tidak.

Ada satu foto yang sangat menarik perhatian saya, yaitu foto di sebuah salon kecantikan milik salah satu anggota Pondok Pesantren yang menunjukkan bahwa seorang pelanggan salon tidak merasa risih sedikitpun saat harus dipotong rambutnya oleh kapster salon yang transseksual. Di belakangnya, malah terdapat beberapa anak muda tetangga yang asik membaca majalah di salon itu, tanpa ada ekspresi risih maupun takut. Mereka dapat menerima transseksual sebagai sesuatu yang biasa.

Melihat foto-foto Naga, kita seolah diajak untuk sudi melihat fenomena transseksual menggunakan kacamata penakar yang normal. Tidak buru-buru minus. Mereka hidup, beribadah, bekerja, berkegiatan sosial dan bahkan berkeluarga. Terkadang apa yang dilakukan oleh mereka justru jauh lebih manusiawi dibanding kelakuan manusia-manusia yang menyebut dirinya normal. Bayangkan saja, saat ini Maryani memiliki dua orang anak angkat, satu laki-laki dan satu perempuan. Yang perempuan ia adopsi sejak berusia satu jam setelah kelahiran, saat itu Ibu kandungnya ingin membuangnya. Lantas, mana yang lebih baik? Siapa yang imoral?

Mengutip sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum.” (HR Bukhari)

Bukan berarti menjadi seorang pezina itu baik menurut Islam, namun yang perlu kita resapi bersama adalah, baik-buruknya sesuatu di mata Tuhan itu belum tentu sama dengan baik-buruknya sesuatu di mata manusia. Jadi, bukankah lebih baik kita semua masing-masing berkaca sebelum menilai sesuatu? Wallahu a’lam.

This entry was posted in Summary and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Presentation Summary: Trans Islam

  1. yoyok says:

    mantaaap….ijin share ya

  2. kholid says:

    mantap mas.. dalam balutan hitam putih sangat menyentuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s