Presentation Summary: Angkor Photo Workshop by Hermitianta Prasetya & Suryo Wibowo

Oleh Saila Muti Rezcan

“If you have no idea about what to shoot, just go out and make some photos”

Forum reguler CEPHAS Photo Forum kembali diadakan untuk pertama kalinya di tahun 2011 ini. Bertempat di Kelas Pagi Yogyakarta, kali ini forum reguler menghadirkan dua orang teman yang berkesempatan untuk mengikuti Angkor Photo Workshop (APWS) tahun 2010 lalu. Mereka berdua adalah Suryo Wibowo dan Hermityanta Presetya atau akrab disapa Mimit. Suryo merupakan stringer untuk Majalah TEMPO. Sedangkan Mimit saat ini masih bekerja sebagai pewarta foto di harian Radar Jogja (Jawa Pos).

Seperti yang kita tahu, APWS merupakan event tahunan yang telah berjalan selama 6 tahun dan diikuti oleh puluhan fotografer di Asia. Tahun 2010 lalu, beberapa teman dari Indonesia mendapat kesempatan mengikuti workshop tersebut, dua diantaranya  adalah Suryo dan Mimit.

Diawali dengan sedikit cerita tentang awal mula bagaimana mereka bisa mengikuti APWS, forum kemudian berlanjut dengan presentasi photo story hasil workshop semua peserta, termasuk milik Suryo dan Mimit.

Suryo dengan story berjudul “Love Is Blind” menampilkan sisi personal dari para tunanetra di Siem Reap, Kamboja. Story tersebut menitikberatkan pada relasi percintaan pasangan tunanetra yang tentu saja sama sekali tak dapat saling meihat satu sama lain. Dengan keadaan tersebut, tentu saja cinta yang tumbuh merupakan cinta yang sama sekali tidak didasari oleh faktor fisik dari pasangannya. Ini menjadi hal yang menarik mengingat pada umumnya faktor fisik tetap menjadi salah satu pertimbangan bagi seseorang untuk jatuh cinta. Namun yang terjadi di sini, jatuh cinta itu sendiri mungkin menjadi hal yang sangat murni berasal dari hati. Lewat foto-fotonya, Suryo menarasikan dengan baik semua hal tersebut. Visualisasi yang diciptakan oleh Suryo mampu menyampaikan apa yang disebut “Love is Blind”. Sedangkan Mimit dengan storynya “Surviving Bokator” bercerita tentang olahraga tradisional Kamboja yang mirip tinju. Dulu olahraga Bokator sempat dilarang karena dianggap mengajarkan kekerasan dan mungkin memicu pemberontakan. Karena hal itu pula, Mimit pun memiliki cerita sendiri terkait dengan proses pembuatan storynya, salah satunya adalah seorang Guru Bokator yang menolak untuk difoto.

Suryo dan Mimit menyampaikan bahwa APWS bukanlah tentang membuat foto yang indah atau bagus semata, namun lebih ditekankan pada konsistensi dan proses dalam memotret itu sendiri. Dalam APWS, peserta dituntut untuk berpikir cepat, mulai dari perencanaan hingga editing. Karena waktu yang ada sangat terbatas, maka kemampuan seseorang untuk beradaptasi di lapangan sangat berpengaruh. Jika kita hendak mencari sesuatu yang baru serta pengalaman di lapangan yang seru, APWS mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk manambah ilmu.

 

This entry was posted in Summary and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s