Review: Jakarta: Estetika Banal oleh Erik Prasetya

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan asli di blog pribadi saya.

Akhirnya buku yang sudah lama saya tunggu-tunggu ini saya dapatkan juga. Begitu saya tahu lewat tweet Rony Zakaria bahwa ia baru saja membeli buku ini, pada hari berikutnya saya langsung menuju ke toko buku favorit saya untuk mengecek apakah stoknya sudah tersedia. Dan benar saja, ada tiga buah di sana. Dengan cepat saya ambil satu dan segera menuju kasir karena toh memang saya tidak punya uang lebih untuk membeli buku lain. Ketika akhirnya saya membuka-buka halaman buku ini, saya benar-benar terpukau. Seringkali, ketika harapan kita terlalu tinggi, pada akhirnya kita akan kecewa karena hal yang kita harapkan itu ternyata tidak sebaik yang kita kira. Tidak demikian kasusnya dengan buku ini.

Estetika Banal pertama kali dipublikasikan dan diluncurkan pada bulan Desember lalu, dibarengi dengan sebuah pameran foto-foto dari buku ini di rangkaian acara 2010 Jakarta International Photo Summit (INTAKEs juga sempat memposting rangkuman diskusi dengan Erik Prasetya di acara “Through the Horizon of Seeing”). Namun, ternyata pada waktu itu buku riilnya sendiri belum siap, yang ada pada acara peluncuran tersebut hanyalah sebuah buku dummy. Baru pada bulan Januari kemarin buku ini mulai masuk percetakan dan akhirnya dirilis.

Sebelum saya memulai review, ijinkan saya untuk menjelaskan kenapa saya sangat mengantisipasi kehadiran buku ini. Walaupun Erik Prasetya adalah fotografer kawakan yang dikenal luas, hingga saat ini Estetika Banal adalah satu-satunya buku foto darinya. Terakhir kali karya-karyanya bisa dilihat dalam bentuk buku adalah di tahun 2005 pada buku Yang Tercinta, yang merupakan hasil kolaborasi 8 orang fotografer. Setelah itu, saya baru melihat foto Erik lagi di katalog pameran 2007 Jakarta International Photo Summit. Foto-fotonya di katalog inilah yang membuat saya semakin tertarik. Saya masih ingat waktu itu saya berpikir, “Inikah pionir street photography di Indonesia yang selama ini kita cari-cari?”

Ketika ketertarikan akan street photography di negeri ini mulai meningkat, kebanyakan praktisi-praktisi mudanya (termasuk saya) tahu dan belajar tentangnya lewat internet, terinspirasi oleh fotografer-fotografer legendaris dari luar negeri. Tentunya kita juga pernah bertanya-tanya, apakah ada fotografer-fotografer lokal semacam ini, mereka yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari di kota-kota di Indonesia. Namun keterbatasan informasi membuat kita sulit menemukan mereka. Kadang kita menemukan beberapa foto lama yang menarik yang bisa kita lihat sebagai street photography, tapi lalu tidak ada informasi lain tentang foto tersebut, apakah ia bagian dari project yang lebih besar dan lain sebagainya. Kekurangan informasi ini membuat kita akhirnya kembali ke sumber luar. Namun kemudian yang saya rasakan, mempelajari master-master dari luar negeri itu ada kelemahannya juga: Hal-hal yang kita temui sehari-hari di sini sama sekali tidak sama dengan adegan-adegan yang ada di foto-foto favorit kita dari luar negeri. Segalanya berbeda. Terkadang sehabis pulang memotret, saya akan melihat foto-foto yang saya buat dan berpikir, “Apakah ini adegan yang cukup menarik? Apakah ini solusi paling efektif dari problem visual yang saya hadapi tadi? Bagaimana saya bisa tahu? Bagaimana ya seorang street photographer berpengalaman dari Indonesia akan memecahkan masalah visual seperti ini? Oh iya, tidak ada orang seperti itu.” Namun sekarang dengan terbitnya Estetika Banal, saya merasa bahwa kita akhirnya memiliki satu dasar pijakan yang kuat untuk berdiskusi, membandingkan, dan yang terpenting mengembangkan street photography dengan rasa Indonesia.

Sekarang mari kita mulai membedah buku ini. Estetika Banal adalah narasi pribadi Erik akan Jakarta, kota yang telah ditinggalinya selama lebih dari 20 tahun—foto terlama di buku ini dibuat tahun 1990 sementara yang terbaru baru saja dibuat Oktober 2010 kemarin. Di tulisan pembuka untuk buku ini, pemerhati fotografi Firman Ichsan menulis bahwa melalui karya-karyanya, Erik “mengkritik pendekatan estetik klasik, bahkan menyatakan adanya estetika kelas menengah pada kebanyakan jurufoto yang cenderung voyeur atau romantik, kalau tidak eksotik—hal yang harus diatasi para jurufoto saat merekam satu situasi untuk mendapatkan keadaan yang “sebenarnya”.” Sejujurnya, untuk ukuran tahun 2011 topik ini terdengar agak ketinggalan jaman, karena pada saat ini justru sudah banyak sekali fotografer yang mengangkat topik-topik dari domain pribadi di karya-karya mereka ketimbang berusaha menunjukkan/menjelaskan sesuatu yang eksotik. Mungkin karena di bidang dokumenter dan fotojurnalistik isu ini dianggap masih cukup lazim ditemui? Namun meski demikian, harus dimengerti juga bahwa Erik telah memulai menggarap project buku ini selama satu dekade, sehingga ini bisa dilihat sebagai opini yang relevan di jamannya, namun keluar terlambat.

Poin lain yang menarik adalah, menurut saya bagaimanapun kita masih akan tetap bisa dituduh melakukan voyeurisme selama kita masih memotret orang lain. Namun Erik berargumen, bahwa ia tidak memotret Yang Lain, karena subyek-subyek yang ia potret berasal dari latar belakang/kelas sosial yang sama dengannya. Apakah hal ini memecahkan masalah, itu terserah anda untuk menilainya. Yang jelas, cara ia memotret Jakarta terlihat alami dan tidak dipaksakan. Saya sendiri sempat tinggal di Jakarta meski tidak cukup lama (1996-2000), dan menurut saya Erik berhasil menangkap atmosfer kota ini di foto-fotonya. Dia memang tidak menyentuh titik tertinggi dan terendah dari kota ini, tapi hal-hal yang dia pilih untuk diangkat, cukup bisa menyampaikan cerita dan pendapatnya.

Buku ini terdiri dari delapan bab, dimana setiap bab tidak berjudul, namun ditandai oleh sepotong puisi yang memulai sebuah bab baru. Perkawinan antara foto dan kata-kata buat saya adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan, karena seringkali salah satunya akan memberati yang lain. Tapi hal itu tidak terjadi di sini. Potongan-potongan puisi yang dipilih, walaupun pendek, dengan cantik menciptakan sebuah nuansa yang spesifik untuk foto-foto yang mengikutinya. Mereka menggelitik keingintahuan, tanpa benar-benar menggambarkan foto-fotonya sehingga pengalaman yang kita dapat dalam menikmati buku ini tidak terusak. Puisi-puisi ini bisa dinikmati dalam keseluruhannya di akhir buku.

Foto-fotonya sendiri pun memang sudah sangat kuat. Dan yang paling menarik perhatian saya, tidak hanya foto-foto ini kuat berdiri sendiri, mereka juga tetap kohesif ketika dilihat secara keseluruhan. Jelas sekali banyak pertimbangan yang telah dilalui dalam proses penyuntingannya. Walaupun sebenarnya tidak ada ‘cerita’ di sini, tapi pengurutan foto-fotonya memberi sugesti adanya narasi di sini, yang dimulai dari semata-mata deskripsi akan kota Jakarta di bab-bab awal, hingga pelan-pelan menjadi pernyataan yang subyektif dari sang penulis akan kota itu dan perkembangannya yang bisa dilihat dari wajah-wajah penduduknya di bab-bab akhir. Tiap foto memiliki caption, dan walau sebagian besar dari caption foto tersebut hanya menunjukkan lokasi dan tahun di mana fotonya dibuat, ada juga caption yang memberi tambahan informasi menarik yang tidak hanya secara obyektif menjelaskan situasi yang ada di foto namun juga hal-hal menarik lain di sekeliling pembuatan foto tersebut, memberikan makna tambahan yang lebih luas padanya.

Dalam skala yang lebih kecil, banyak juga pasangan foto di dua halaman yang berhadapan yang menarik, sebagian karena adanya kesamaan elemen visual ataupun hubungan jukstaposisi di antara mereka, sebagian lagi karena timbulnya cerita mini akibat foto-foto komplementer yang berdampingan. Sebagian sampel dari foto-fotonya saya tampilkan di sini. Ini buku yang bisa tetap dinikmati walau dilihat berulang-ulang.

Berdasarkan semua hal yang saya sebutkan di atas, buat saya ini adalah buku yang harus dimiliki oleh peminat street photography di tanah air, atau penggemar buku foto apapun. Saya bukan orang yang berpengetahuan luas di bidang buku foto, namun saya merasa buku ini nantinya akan bisa dilihat sebagai suatu tonggak dalam perkembangan fotografi di negeri ini. Setidaknya, sebagai fotografer yang juga tengah berusaha untuk mendokumentasikan sebuah kota yang sudah saya anggap kampung halaman, saya merasa belajar banyak dari buku ini.

 

Jakarta: Estetika Banal
Kepustakaan Populer Gramedia, bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta
Hardcover 192 halaman; 30cm x 24cm
Rp 175.000

About Kurniadi Widodo

A photographer wandering the streets of Yogyakarta.
This entry was posted in Review and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Review: Jakarta: Estetika Banal oleh Erik Prasetya

  1. Pingback: Jakarta: Estetika Banal « Rujak

  2. Pingback: Syaiful, Bukan Slamet | Sidekick

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s