Notulensi Diskusi Terbuka “Menengok Merapi: Informasi dan Sensasi Pemberitaan Erupsi”

Pembicara:

  • Dwi Oblo | Fotografer
  • Indrawan (Capung) | Komunitas Lereng Merapi

 

Moderator:   Raditya Jati (Staf Pengajar Fakultas Geografi UGM)

Jumat, 18 Februari 2011

Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta

3.27 pm  Pembukaan oleh Marie – LIP, pembukaan oleh Naga – CEPHAS Photo Forum

3.36 pm Moderator membuka acara.

 

Pembicara I | Capung:

Komunitas Lereng Merapi merupakan paguyuban atas dasar kesepakatan masyarakat di 4 kabupaten daerah merapi. Dirasa perlu sejak menyadari pentingnya menjadi satu keluarga dalam memantau gunung Merapi, tidak bisa dari satu sisi. Menyediakan informasi untuk akses ke merapi terutama untuk reporter, dan juga informasi vulkanologi. Pendanaan berasal dari swadaya masyarakat.

Pembicara II | Dwi Oblo:

Profesi sebagai stringer di kantor berita Reuters. Kejadian yang memiliki nilai berita tinggi salah satunya adalah bencana alam. Merapi sebagai gunung teraktif di dunia menjadi fokus berita yang memiliki nilai berita tinggi. Sebagai fotografer, untuk mendapatkan foto jelas harus mendekat pada subyek foto, tidak bisa hanya lewat telepon seperti wartawan tulis misalnya.

Pada saat erupsi kemarin, sejak status Merapi masuk pada “siaga”, para stringer tersebut sudah ditugaskan untuk stand by di Merapi. Ada beberapa foto yang salah nama, milik Argo namun menjadi Clara Prima, AFP.

Setiap saat berkoordinasi dengan kantor, akan membuat foto seperti apa lagi. Kendala akses masuk lumayan besar. Setiap hari harus update Merapi seperti apa, itu yang sedikit banyak membuat lelah. Tekanan yang ada karena wilayah rumah masuk ke dalam zona bahaya (22km) sempat mebuat stress karena harus memikirkan keluarga untuk mengungsi dan juga tetap harus mendapatkan foto. Dari kantor berita sendiri selalu mewanti-wanti agar para fotografernya menuruti perintah pemerintah untuk keamanan, namun di sisi lain mereka juga selalu menanyakan apakah mereka mempunyai foto di lokasi. Ini menjadi satu hal yang ambigu yang terkadang membingungkan fotografer dalam bertindak. Foto Merapi tahun 2010 ada yang memenangkan WPP à Kemal Jufri. Karena Merapi merupakan isu besar bahkan sampai internasional, maka para fotografer pun menjadi merasa harus mendapatkan foto.

Didit:

Safety dalam meliput menjadi kebutuhan yang primer bagi fotografer dan juga link untuk akses ke lokasi.

Penanya:

Ana:

1. Berapa jauh rencana pemerintah untuk memindahkankan pemukiman penduduk?

2. Tentang tekanan yang ada untuk mendapatkan foto. Etika, foto yang bagus itu seperti apa dalam situasi itu? Berapa jauh hak pribadi orang dihormati? Di Jerman fotografer dilarang masuk ke RS begitu saja.

Jawaban:

  1. Capung: Pemerintah memandang kegiatan KLM sebagai bentuk arogansi, karena kami memantau Merapi, maka dinilai kami mendukung mereka untuk tetap berada di sana. Jadi sebenarnya KLM dan pemerintah memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Karena selama ini yang terjadi, relokasi itu tidak berjalan maksimal, penduduk tetap saja menghendaki untuk kembali ke rumahnya.
  2. Dwi Oblo: Polemik yang tidak ada habisnya. Karena ketika berbicara etika, etika yang mana? Jika memang bencana memiliki dampak yang demikian, mengapa tidak dikatakan? Foto bagus juga merupakan hal yang relatif, bagusnya kantor berita mungkin tidak bagus bagi penduduk, namun kita harus memilih. Ada kawan seorang wartawan yang memutuskan untuk menyimpan kameranya dan menolong penduduk pada saat itu. Mengenai izin ke RS, itulah bedanya dengan di Jerman, di Indonesia masih relatif bebas untuk akses ke RS.

Elizabeth:

  1. Sampai sekarang pemerintah belum menawarkan lokasi baru pada warga Kinahrejo. Namun ada beberapa juga yang memlih untuk hidup di lokasi relokasi karena trauma yang besar dan takut untuk kembali ke daerah mereka. Adanya angin kencang yang beberapa waktu lalu merusak shelter telah membuat trauma baru pada para penyitas. Jadi seharusnya pemerintah menyediakan dulu tempat yang aman.

Jawaban:

  1. Didit: Skenario evakuasi kali ini memang masih kacau. Tidak ada yang menyangka zona bahaya akan menjadi seluas ini.
  2. Capung: Berdasarkan intuisi, kemungkinan akan ada awan panas lagi, secara konstruksi itu memungkinkan. Mengenai relokasi, ada kas desa yang akan dibangun untuk relokasi di Kinahrejo.

Bagas:

  1. Segera susun kode etik fotografer, karena ketika foto-foto dan gambar tidak layak untuk dipublish ya jangan dipublish. Mungkin tidak masalah jika dalam konteks untuk pendidikan, namun jika dalam konteks mencari sensasi dan hadiah, itu menjadi hal yang ironis. Saat proses evakuais Mbah Maridjan, ada kesepakatan bahwa kamera dan handycam harus disimpan, terkait dengan masalah privasi, namun ternyata bocor dan beritanya sudah naik, berarti ada pelanggaran kesepakatan. Yang saya takutkan, momen-momen mengharukan nantinya hanya akan menjadi komoditas.

Jawaban:

  1. Dwi Oblo: Ketika saya motret selalu ada dilemma untuk dipublish atau tidak. Kalau mengenai kode etik, ada PFI. Namun sejauh mana kode etik itu dijalankan, saya juga tidak tahu. Ada juga Dewan Pers yang bertanggung jawab atas media yang telah publish.
  2. Budi: Kami juga punya keprihatinan yang sama mengenai hal itu. Namun dalam banyak hal, kami di lapangan juga tidak memiliki banyak pilihan. Mendokumentasikan dan mempublikasikan adalah dua hal yang berbeda. Mengenai foto yang ikut lomba dan menang dengan foto tersebut, menurut saya fair-fair saja, hanya saja apakah kemudian berhenti sampai di situ itu kembali pada masing-masing individu. Apakah si fotografer merasa memiliki tanggung jawab lain ya kembali pada mereka. Jika ditanya siapa yang paling diuntungkan dengan foto itu, okelah fotografer pasti mendapatkan keuntungan jika memenangkan kontes, namun yang perlu dicatat adalah, peran foto itu sendiri ya memberitahukan pada khalayak luas dan kemudian bantuan bisa datang. Semua memiliki peran masing-masing, fotografer ya perannya memotret.

Wahyudi:

  1. Pemberitaan Merapi kebanyakan dari Selatan, dari Utara sangat jarang. Saya mengambil gambar untuk KLM pun nggak tenang, karena tujuan utama kami memang bukan untuk mengambil gambar melainkan menolong para penyitas. Jadi memang di lapangan itu pikiran kami selalu terbelah-belah dan dihampiri dilemma yang banyak. Namun saya pun tidak mengambil gambar semata-mata untuk mencari untung.

Elizabeth:

  1. Ini merupakan salah satu bukti jika kita merupakan relawan, kita akan mendapatkan gambar yang jauh lebih menarik. Sebaiknya kita tidak melihat semua secara kotak-kotak, sebagai fotografer, sebagai wartawan, sebagai relawan, tentu tidak. Kita melihat sebagai manusia, tidak bisa kita mengacuhkan hal tersebut.

Wahyudi:

  1. Kami cuma pikirkan pada saat itu, saya punya anak, dan anak saya kelak akan punya anak lagi. Saya mengambil gambar-gambar tersebut salah satunya untuk warisan dunia, untuk disampaikan lagi pada orang lain sebagai bahan pelajaran vulkanologi.

Himawan:

  1. Saya satu kali ikut evakuasi korban, sambil motret saya berpikir, saya bukan seorang hero, dan bukan orang yang hidup dari foto saya jika cara saya mendapatkan foto dengan cara seperti ini. Sejak saat itu saya memutuskan tidak akan datang ke Merapi lagi untuk memotret. Kegelisahan saya itu kemudian saya lampiaskan pada media yang lain. Bagi saya media menjadi tidak penting. Saya kemudian beralih ke kriya, segala kegelisahan itu saya tuangkan lewat kriya. Cara saya mendokumentasikan Merapi tidak dengan foto lagi.

Didit:

Kesimpulan:

-Perlu ada SOP tanggap bencana

This entry was posted in Summary and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s