About Cephas

Kami mengambil nama Cephas Photo Forum dari Kassian Cephas (1845–1912). Kassian Cephas adalah jurufoto pribumi pertama yang tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Berikut riwayat singkat beliau, yang dicuplik oleh salah satu admin kami, Budi N.D. Dharmawan dari buku Cephas, Yogyakarta: Photography in the service of the Sultan, oleh Gerrit Knaap,  terbitan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Press, Leiden, 1999.

(Versi ringkas tulisan ini pernah dimuat di blog fotografi Seribu Kata.)

Kassian Cephas

Jurufoto pribumi pertama

Kassian dan Sem Cephas, ayah dan anak, adalah jurufoto yang bekerja untuk Sultan Yogyakarta. Lahir pada abad kesembilan belas sebagai ‘inlanders’, atau ‘pribumi’, mereka orang Jawa. Kassian merupakan orang Jawa pertama, dengan demikian orang asli Indonesia pertama, yang menjadi jurufoto profesional.

Kassian, yang kemudian menambahkan Cephas sebagai nama belakang, lahir di Yogyakarta pada 15 Januari 1845. Pada akta pernikahannya pada 1893, Kassian mencatat nama pribumi Kartodrono dan Minah sebagai orangtuanya.

Kassian menganut Kristen dan dibaptis pada 27 Desember 1860 di sebuah gereja di Bagelen, Purworejo, sekitar 60 km ke barat dari Yogyakarta. Guru agama Kassian bernama Christina Petronella Philips-Steven. Kassian mengambil nama Cephas sebagai nama baptis. Cephas merupakan bahasa Aram dari Petrus. Bahasa Aram adalah bahasa yang digunakan oleh Yesus sendiri. Sejak itu, Kassian memakai nama Cephas sebagai nama marga. Kassian menghabiskan masa kecilnya bersama Nyonya Philips-Steven, kemungkinan sebagai pelayan.

Kassian Cephas kembali ke Yogyakarta pada awal dasawarsa 1860-an. Pada 22 Januari 1866, Kassian menikahi perempuan pribumi bernama Dina Rakijah. Menurut akta pernikahan 1893, Dina lahir pada 1846 dari pasangan Soerobangso dari Tegal dan perempuan Kristen pribumi Rad Rakemah. Akta pernikahan mereka berangka tahun 1893 karena setelah Kassian mengajukan permohonan agar status hukumnya disamakan dengan orang Eropa, pemerintah Hindia-Belanda mengharuskannya menikah ulang berdasarkan hukum Eropa.

Pada 10 Juni 1867, Yogyakarta diguncang gempa besar, menelan 326 korban jiwa dan 399 luka-luka. Kerugian material kira-kira f. 2.700.000, dengan kerugian perorangan terbesar dialami Sultan Hamengkubuwana VI sebesar f. 336.000. Kediaman Residen, sekarang Gedung Agung, yang didirikan pada 1824, mengalami kerusakan parah dan hampir seluruhnya harus dibangun kembali. Di antara orang-orang yang dilaporkan sangat berjasa di dalam upaya menyelamatkan sebanyak mungkin korban, adalah sang Kristen Jawa, Cephas.

Kassian banyak berkarya selama pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VII. Sultan Hamengkubuwana VII naik tahta pada 13 Agustus 1877, menggantikan ayahnya, Hamengkubuwana VI, yang meninggal dunia setelah berkuasa sejak 1855. Hamengkubuwana VII lahir pada 4 Februari 1839 dan merupakan anak laki-laki tertua Hamengkubuwana VI. Setahun kemudian, pada 1878, Paku Alam IV meninggal dunia setelah berkuasa selama empat belas tahun, lalu digantikan oleh pamannya, Paku Alam V.

Fotografi dan arkeologi

Kassian Cephas belajar menjadi jurufoto di bawah petunjuk jurufoto pemerintah yang bekerja untuk Sultan Yogyakarta waktu itu, Simon Willem Camerik. Lahir pada 1830, Camerik datang ke Yogyakarta pada 1861 dan menjabat letnan-dua militer sipil di Yogyakarta pada 1865. Camerik meninggalkan Yogyakarta pada 1871, kemungkinan pindah, karena tidak ada berita kematian. Dengan demikian, bisa dibilang Kassian Cephas dilatih menjadi jurufoto antara 1861–1871, dan ditunjuk menjadi jurugambar dan jurufoto pemerintah oleh Sultan Hamengkubuwana VI barangkali pada 1871. Foto pertama yang dapat dibilang sebagai karya Kassian Cephas adalah tentang Barabudur dan berangka tahun 1872.

Orang yang sangat penting di dalam karir Kassian yaitu Isaäc Groneman, yang datang ke Yogyakarta pada 1869. Groneman adalah seorang mantri, lahir 1832 di Zutphen, Belanda, dan bekerja selama beberapa tahun di Bandung sebelum pindah ke Yogyakarta. Groneman pernah bertugas sebagai pejabat sementara dokter pemerintah, menggantikan dokter resmi D.M. Piller, yang sedang sakit. Setelah kematian Piller pada 1885, Groneman menjadi dokter resmi Sultan. Pada 1889, Groneman meninggalkan Yogyakarta untuk beberapa tahun, mengakhiri karirnya sebagai dokter Sultan.

Pada akhir 1870-an dan 1880-an, Groneman mulai punya minat kuat di dalam bidang sejarah dan budaya Jawa. Pada 1885, dia adalah salah satu dari pendiri dan anggota Vereeniging voor Oudheid-, Land-, Taal- en Volkenkunde te Jogjakarta, atau Perkumpulan Arkeologi, Geografi, Bahasa, dan Etnografi Yogyakarta. Kassian Cephas menjadi anggota perkumpulan ini dan menjadi jurufoto di dalam banyak penelitian, baik yang dilakukan oleh perkumpulan maupun Groneman pribadi.

Pada waktu itu, Kassian dan Dina dikaruniai anak. Anak pertama perempuan, lahir 28 Juni 1866, dinamai Naomi. Anak kedua diberi nama Jacob, diperkirakan lahir 1868, namun sayangnya meninggal pada tahun yang sama. Pada 15 Maret 1870, lahir seorang anak laki-laki, Sem, dan pada 30 Januari 1872, seorang anak laki-laki lagi, Fares. Anak paling kecil yang mencapai usia dewasa adalah Jozef, lahir 4 Juli 1881. Pada November 1882, pada usia enam belas tahun, Naomi meninggalkan rumah setelah menikah dengan Christiaan Beem, yang tujuh tahun lebih tua.

Keluarga Cephas tinggal di Yogyakarta di Lodji Ketjil Wetan, kini Jalan Mayor Suryotomo. Lokasi rumah mereka diperkirakan di tempat Toko Progo berdiri pada 1990-an. Ketika terbit koran pertama Yogyakarta, Mataram, Cephas memasang iklan di dalam edisi perdananya, 15 Januari 1877, mengumumkan bahwa studio buka 7.30–11.00 pagi. Pada Juni 1877, studio harus ditutup sementara, karena hujan deras yang membanjiri daerah Lodji Ketjil menyebabkan kerusakan yang cukup parah. Setelah itu, Cephas tidak lagi rutin mengiklankan usaha fotografinya di koran.

Studio Cephas di Lodji Ketjil hampir pasti menjadi tempat pengambilan gambar banyak potret orang dan keluarga. Namun demikian, sulit ditentukan apakah banyak potret keluarga Keraton, termasuk Sultan, juga dibuat di sana. Di samping potret, Cephas juga membuat banyak foto bangunan, jalanan, dan monumen kuno, baik di dalam kota maupun jauh di luar kota.

Pada masa itu, Kassian Cephas bukanlah satu-satunya jurufoto di Yogyakarta. Dari waktu ke waktu, jurufoto pendatang dari tempat lain berkunjung ke Yogyakarta dan selama beberapa pekan, mengiklankan usaha mereka di koran lokal. Di antaranya, ada Barth dan Tagesell dari Semarang, Persijn yang sempat kongsi dagang dengan Kassian, O. Kurkdijan, dan Jos Sigrist. Di samping itu, ada pula Isidore van Kinsbergen, yang bekerja sementara waktu di Jawa Tengah selama 1863–1875 guna memfoto peninggalan Hindu-Jawa.

Pada Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus, memakan puluhan ribu korban di Sumatera dan Jawa Barat, serta menimbulkan kerusakan material yang luar biasa besar. Bencana ini tidak berlalu begitu saja tanpa diketahui di Yogyakarta. Di dalam sepekan, badan bantuan segera dibentuk. Termasuk sebagai anggotanya adalah adik laki-laki tertua Sultan, Gusti Pangeran Harya Mangkubumi, Pangeran Harya Adipati Paku Alam V, Asisten Residen, dan sejumlah tokoh masyarakat.

Kassian Cephas adalah salah seorang warga yang melakukan usaha terbaik di dalam berkontribusi di dalam upaya pemulihan. Bersama dengan Panewu Sastradipura dan sang dokter Jawa, Wahidin Sudirohusodo, dia mengatur beberapa penampilan drama tari, yang pertama di kediaman Bupati Gondokusumo dan yang kedua di kediaman Panji Gamping. Dana yang terkumpul mencapai f. 150. Sultan juga dengan baik hati menyumbangkan f. 5.000 di dalam upaya pemulihan. Jumlah keseluruhan bantuan yang terkumpul di Yogyakarta mencapai f. 20.000. Kerendahan hati, kesederhanaan, dan jiwa sosialnya membuat Kassian Cephas dikenal di kalangan masyarakat lokal. Akibatnya, jalan tempat dia tinggal, Lodji Ketijl Wetan, kerap disebut sebagai ‘Jalan Cephas’.

In den Kedaton dan De garebeg’s

Cephas pertama dicantumkan namanya sebagai jurufoto topografi untuk khalayak nonlokal di dalam artikel Groneman yang ditulis untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Masyarakat Seni dan Ilmiah Batavia. Di dalam artikel ini, yang mengangkat topik istana air Tamansari, bertanggal Januari 1884, Groneman menyatakan bahwa ‘sang jurufoto Jawa’ Cephas membuat beberapa ‘fotogram’ yang bagus dari reruntuhan Tamansari.

Pada 1885, Groneman mengirimkan rancangan In den Kedaton te Jogjåkartå dan sebuah publikasi lain, berjudul De garebeg’s te Ngajogyåkartå, kepada Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Royal Institute for Linguistics and Anthropology) di Den Haag. Di dalam keduanya terdapat fotogram (sebetulnya ‘collotype’) oleh Cephas. Royal Institute tidak menerbitkan kedua artikel tersebut di dalam jurnalnya pada 1885. Pada 1888, In den Kedaton diterbitkan oleh Brill, sebuah penerbit niaga di Leiden. Publikasi memakan waktu begitu lama karena biaya reproduksi ilustrasi yang tinggi. Sementara itu, penerbitan De garebeg’s ditunda.

Di dalam pengantar In den Kedaton te Jogjåkartå, Groneman menyebut bahwa seni tari Hindu-Jawa klasik masih terpelihara secara luar biasa di daerah Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta. Dengan seizin Sultan Hamengkubuwana VII, Cephas menghasilkan lebih dari 16 gambar dari adegan-adegan tari. Karena biaya reproduksi yang tinggi, penerbit terpaksa membatasi publikasi 16 collotype saja.

Pada 1886, Cephas membeli kamera untuk ‘photographie instantanée’. Kamera jenis ini dapat mengambil gambar di dalam 1/400 detik, yang merupakan kemajuan besar. Sebelumnya, orang yang difoto harus diam tidak bergerak selama beberapa saat. Cephas membuat foto dari beberapa tempat di kota dengan kamera baru itu dan menjual cetakan ukuran besar foto-foto itu kepada masyarakat seharga masing-masing f. 1.

Foto-foto itu dimaksudkan untuk dijual sebagai oleh-oleh. Karya Cephas mulai dibeli secara rutin sebagai hadiah ucapan selamat tinggal untuk anggota elite Eropa lokal ketika mereka meninggalkan Yogyakarta ke tempat lain di Nusantara ini atau ke Eropa. Album seperti itu, serta yang di dalamnya terdapat foto Sultan dan keluarganya, juga diberikan sebagai hadiah bagi pegawai negeri yang purnatugas, seperti Residen dan Asisten Residen.

Pada 1888, Cephas memulai prosedur guna diberi status hukum ‘gelijkgesteld met Europeanen’, atau ‘setara dengan orang Eropa’, bagi dirinya dan dua anak laki-lakinya yang tertua, Sem dan Fares. Langkah pertama adalah mengadopsi ‘Cephas’ sebagai nama marga secara resmi. Kassian melakukan ini pada 1889 melalui pemberitahuan di koran resmi pemerintah Hindia Belanda.

Akhirnya, pada Oktober 1891, Kassian, Sem, dan Fares diberi pengakuan status hukum sebagai orang Eropa oleh Gubernur Jenderal. Kassian dan anak-anaknya tetap pribumi, namun memperoleh hak untuk diperlakukan sesuai hukum dan aturan Eropa, dan tidak dengan aturan pribumi. Salah satu konsekuensinya, dia diharuskan menikahi istrinya, Dina, sekali lagi, kali ini menurut hukum Eropa. Upacara pernikahan berlangsung pada Desember 1893.

Pada 1890, Groneman menerbitkan tulisan mengenai tarian Hindu-Jawa. Tarian yang dimaksud adalah yang ditampilkan pada Agustus 1888, memperingati hari penobatan Patih, Kangjeng Raden Adipati Danureja V. Artikel itu dihiasi beberapa ilustrasi litograf berdasarkan foto karya Cephas.

Pada 1889, sebuah peristiwa kebudayaan yang bahkan lebih penting terjadi di Yogyakarta, yaitu perayaan sunat Putra Mahkota, Gusti Raden Mas Akhadiyat alias Hamengkunegara I. Besar kemungkinan Cephas membuat liputan foto terhadap pertunjukan tari luar biasa yang merupakan bagian dari perayaan. Sayangnya, foto-foto ini tidak dipublikasikan. Pertunjukan tarian ini berlangsung selama empat hari dan dihadiri lebih dari 84.000 pengunjung.

Prambanan dan Barabudur

Pada 1889–1890, Archaeologische Vereeniging, atau Perkumpulan Arkeologi, di Yogyakarta sedang melaksanakan penelitian dan pelestarian monumen kuno peradaban Hindu-Jawa di Jawa Tengah. Kompleks candi Lara Jonggrang di Prambanan, di perbatasan Yogyakarta dan Surakarta, merupakan monumen dengan prioritas tinggi di dalam agenda Perkumpulan Arkeologi.

Kassian Cephas membuat foto projek kompleks candi Lara Jonggrang pada 1889 dan 1890, sementara Sem muda menggambar denah dan kenampakan bangunan. Pada 1890, pemerintah Hindia-Belanda menyediakan f. 3.000 untuk menyelesaikan kerja penggalian dan pengambilan foto situs itu. Pada akhir 1891, Groneman mengirimkan foto-foto yang dibuat oleh Cephas bersama dengan deskripsi yang ditulisnya untuk publikasi ke Royal Institute di Den Haag. Lagi-lagi, karena biaya reproduksi yang mahal, Tjandi Prambanan op Midden-Java na de ontgraving baru terbit pada 1893. Karya yang mengesankan ini terdiri dari 62 collotype berdasarkan foto oleh Cephas.

Pesanggrahan Barabudur yang telah terkenal di dekat Magelang di Kedu juga ada di peringkat atas agenda Perkumpulan Arkeologi. Pada 1885, lantai dasarnya yang tersembunyi ditemukan oleh pemimpin pertama Perkumpulan, sang teknisi kereta api J.W. IJzerman. Perkumpulan segera berencana untuk menggali dan memfotonya. Pemerintah menyediakan f. 9.000 untuk projek ini. Pada 1890–1891, lantai dasar tersebut digali, difoto oleh Cephas, kemudian ditutup lagi. Secara keseluruhan, ada 164 foto yang dibuat oleh Cephas di lantai tersembunyi itu, 160 foto relief dan empat lainnya memberikan gambaran umum keadaan situs tersebut.

Dibutuhkan setengah jam untuk mengambil setiap foto dan mengembangkan negatif kaca. Teknik yang dipakai untuk negatif ini adalah proses gelatin kering. Harga Cephas untuk produksi sebuah negatif adalah f. 10. Keseluruhan seri ini baru dipublikasikan 30 tahun kemudian di dalam collotype oleh N.J. Krom dan T. van Erp, Beschrijving van Barabudur, diterbitkan oleh Royal Institute.

Pada 1892, setelah penugasan Barabudur selesai, Cephas membuat 12 foto dari koleksi penemuan arkeologis yang dimiliki oleh J.A. Dieduksman, di Yogyakarta, yang dia persembahkan kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, atau Masyarakat Seni dan Ilmiah Batavia. Pada tahun yang sama, Kassian Cephas, ‘jurufoto dan pelaku arkeologi Hindia’ ditunjuk menjadi ‘anggota luar biasa’ Masyarakat Seni dan Ilmiah Batavia.

Pada 1892 juga, anak laki-laki Kassian yang kedua, Fares, pada usia dua puluh tahun, memulai karirnya sendiri. Tidak seperti kakaknya Sem, dia memilih pekerjaaan di luar fotografi. Fares bekerja sebagai pengawas di departemen pekerjaan umum di Kediri. Akan tetapi, dia meninggal secara tragis pada usia muda pada 1895. Beberapa tahun kemudian, jandanya, E.R. Hooper, tercatat sebagai seorang penjual kopi di Nganjuk, dekat Kediri.

Kemungkinan pada dasawarsan 1890-an, anak laki-laki tertua Kassian, Sem, memiliki seorang istri pribumi, kendatipun namanya tidak diketahui. Barangkali istrinya itu meninggal pada 1897 atau lebih awal, karena pada tahun itu Sem mengakui James Aegir Cephas sebagai anaknya secara hukum.

Pada saat ini, Sem telah cukup aktif di dalam usaha fotografi, kadang-kadang di bawah namanya sendiri. Pada 1893, dia membuat foto-foto di Imogiri, tempat pemakaman Sultan di selatan Yogyakarta. Pada tahun itu juga, untuk perayaan guna menghormati penobatan Putra Mahkota yang baru, Gusti Raden Mas Pratisto alias Hamengkunegara II, tiga transparansi yang dilukis oleh Sem dipasang di Keraton. Sem juga melukis sebuah potret almarhum Putra Mahkota yang pertama, Gusti Raden Mas Akhadiyat, yang hendak dipersembahkan oleh keluarga Cephas kepada Sultan sebagai kenangan terhadap sang Pangeran.

Pada 1895, Sem membuat lagi transparansi untuk perayaan guna menghormati penobatan Putra Mahkota yang baru lagi, Gusti Raden Mas Putro alias Hamengkunegara III. Putra Mahkota sebelumnya, kakaknya, rupanya mengalami gangguan kejiwaan. Akhirnya, pada 1897, sebuah foto oleh Sem diterbitkan di dalam jurnal Masyarakat Batavia, sebagai ilustrasi bagi sebuah artikel oleh Komoan mengenai eksploitasi sarang burung di gua-gua pantai di Rongkob, di sebelah tenggara kota.

Kerjasama terakhir

Setelah Royal Institute di Den Haag menerbitkan karya Kassian Cephas mengenai Prambanan, tulisan Groneman De garebeg’s dikirimkan untuk kali kedua kepada Institute. Sekali lagi, Dewan menolaknya. Namun demikian, pada awal 1895, pada rapat umum tahunan Institute, beberapa anggota mengajukan permohonan untuk penerbitan karya tulis yang menarik tersebut. Dewan akhirnya setuju menerbitkannya sebagai publikasi khusus. De garebeg’s te Ngajogyåkartå dihiasi 25 ‘fotogram’ oleh Cephas. Kali ini, ‘fotogram’ yang dimaksud bukanlah collotype, melainkan cetakan blok proses.

Tahun berikutnya, untuk menghormati kegiatannya bagi Perkumpulan Arkeologi, Kassian Cephas dicalonkan menjadi anggota Royal Institute, yang dia terima dengan bangga di dalam sebuah surat bertanggal 15 Juni 1896.

Pada 1896, Raja Rama V alias Chulalongkorn dari Siam (Thailand) berkunjung ke Yogyakarta. Sang Raja diajak bertamasya ke semua situs penting di dalam dan sekitar kota. Kassian Cephas membuat sejumlah gambar di dalam kunjungan itu. Sebagai tanda terimakasih, Sang Raja memberi Cephas sebuah kotak berisi tiga kancing berhiaskan permata.

Pada 1901, Kassian Cephas menerima tanda terimakasih lain dari Kerajaan Belanda. Pada perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina, dia diberi penghargaan medali emas Orange-Nassau. Kassian Cephas barangkali diberi penghargaan tersebut karena upayanya memotret dan melestarikan peninggalan arkeologis dan budaya Jawa.

Pada Juni 1899, Groneman dan Kassian Cephas bekerjasama untuk kali terakhir. Mereka meliput pertunjukan wayang orang Pregiwa, sebuah drama tari klasik, yang berlangsung selama empat hari dan bertempat di Keraton. Acara ini diselenggarakan untuk mengenang penobatan Putra Mahkota Gusti Raden Mas Putro alias Hamengkunegara III, empat tahun sebelumnya.

Tema pertunjukan diambil dari karya sastra Jawa klasik, yang kemudian ditulis ulang untuk kebutuhan pentas oleh Gusti Pangeran Harya Surya Mataram, saudara laki-laki Sultan Hamengkubuwana VII. Lebih dari 150 orang terlibat di dalam pertunjukan luar biasa itu. Persiapan memakan waktu satu setengah tahun dan menghabiskan biaya sekitar f. 30.000. Pertunjukan dihadiri 23.000 hingga 36.000 pengunjung setiap hari.

Sebuah liputan lengkap pertunjukan tersebut, berjudul De wajang orang Pregiwå in den Kraton te Jogjåkartå in juni 1899, dengan sembilan cetakan blok proses foto-foto Cephas, diterbitkan pada tahun yang sama di Semarang. Pada 1901, buku tersebut, dengan sampul berlapis kain biru dan berhiaskan emas dan permata, dipersembahkan kepada Wisma Oranye [Istana Kerajaan] di Belanda pada perayaan pernikahan Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dari Mecklenburg-Schwerin.

Pada 1902, Kassian Cephas membuat beberapa foto wayang beber dari desa Gelaran di Gunung Kidul. Bentuk seni rakyat ini segera punah dari seluruh Jawa. Saat itu, hanya ada beberapa set gambar tersisa, yang dilukis di gulungan kertas dari kulit kayu. Satu-satunya wayang beber yang tersisa di Yogyakarta adalah di Gelaran, milik seseorang bernama Gunakarya. Masyarakat Yogyakarta hanya melihatnya pada kesempatan yang jarang, misalnya pada perayaan sunat Putra Mahkota atau pada 1898 saat memperingati penobatan Ratu Wilhelmina di Belanda.

Pada September 1902, wayang beber Gelaran dipesan oleh Patih, Kangjeng Raden Adipati Danureja VI, untuk dibawa ke Yogyakarta guna dipelajari oleh G.A.J. Hazeu, seorang guru Bahasa Jawa yang terkenal dari Batavia. Pada saat inilah wayang beber difoto oleh Cephas. Sayangnya, artikel Hazeu terbit tanpa ilustrasi.

Tahun-tahun terakhir

Awal 1900-an, ayah dan anak Cephas tidak lagi banyak membuat foto untuk tujuan arkeologi dan keperluan khalayak. Pada 1901, pemerintah kolonial di Batavia mendirikan Oudheidkundige Commissie, atau Komisi Arkeologi, yang kegiatannya mencakup seluruh kepulauan Nusantara. Pada 1913, Komisi digantikan oleh Oudheidkundige Dienst, atau Layanan Arkeologi. Organisasi ini melakukan pengambilan foto sendiri. Pembentukan badan pusat demikian merupakan pukulan kuat bagi perkumpulan arkeologi amatir lokal, seperti Perkumpulan Arkeologi di Yogyakarta, yang memiliki jurufoto sendiri.

Bertambahnya usia Groneman juga berakibat berkurangnya kesempatan untuk meliput perayaan besar di dalam dan sekitar Keraton. Aspek rutin fotografi, seperti membuat potret orang-orang dan keluarga, mulai menjadi lebih penting bagi Cephas. Sekitar 1900, Cephas tidak lagi terganggu oleh jurufoto pendatang yang berkunjung di Yogyakarta. Namun demikian, kompetisi muncul dari sudut lain, berupa studio niaga yang didirikan permanen di kota. Pada 1903, ada dua studio semacam itu di Yogyakarta, keduanya dijalankan oleh orang Cina.

Menjelang usia 60 tahun, Kassian Cephas pensiun dari urusan fotografi, menyerahkannya sepenuhnya kepada anaknya, Sem. Selama beberapa waktu, Kassian menjadi ordonnans di Keraton, seorang petugas resmi yang mengantarkan surat dan bertindak sebagai perantara, di dalam upaya menjaga hubungan dengan Residen dan pejabat lain. Sultan memiliki sejumlah petugas seperti itu, semua di bawah pengawasan ketua masing-masing.

Pada 1905, Kassian ditunjuk menjadi ketua. Gelar barunya adalah hoofd-ordonnans atau wedana-rodonas. Kassian dan istrinya, Dina, telah pindah dari Lodji Ketjil Wetan ke sebuah rumah di sisi timur laut Keraton, di Musikanan, tempat wedana-rodonas biasa bertempat tinggal. Disebut Musikanan, karena di situ tinggal para pemusik kerajaan yang memainkan alat musik Eropa.

Pada masa ini, anak laki-laki ketiga Kassian, Jozef, bekerja sebagai pengawas di Staats Spoorwegen, Perusahaan Kereta Api Negara. Pada 1903, dia menduduki posisi tersebut di Surabaya. Pada 1908, dia menikahi Louïse Hooper, yang barangkali adalah keluarga kakak iparnya, E.R. Hooper, istri Fares. Pada 1916, Jozef disebutkan pindah menjadi pegawai di pabrik gula Redjosari di dekat Madiun.

Pada 16 September 1911, Dina meninggal dunia. Setahun kemudian, pada September 1912, menantu Kassian dan Dina, suami Naomi, Christiaan Beem, meninggal dunia. Pada 16 November 1912, setelah menderita penyakit cukup lama, Kassian sendiri meninggal dunia, di dalam usia hampir 68 tahun.

Seperti istrinya dan menantunya, Kassian dimakamkan di pekuburan yang terletak di antara pasar Beringharjo dan daerah Lodji Ketjil. Dua pekan kemudian, pada 2 Desember 1912, akibat sebuah kecelakaan yang tidak dijelaskan, rekan kerja Kassian Cephas selama sebagian besar hidupnya, Isaäc Groneman, juga meninggal dunia.

Beberapa bulan selepas kematian ibunya dan sekitar sepuluh bulan sebelum kematian ayahnya, Sem menikah untuk kali yang kedua, kali ini menurut hukum Eropa. Upacara pernikahan berlangsung pada 20 Desember 1911, dan yang menjadi mempelai wanita adalah Raden Soepilah. Raden Soepilah lahir pada 15 Maret 1893 dan merupakan keturunan Sultan Mataram dari abad ketujuh belas. Dengan demikian, Sem masuk ke dalam lingkaran Keraton. Sebulan setelah kematian ayahnya, Sem ditunjuk menjadi wedana-rodonas.

Anak pertama Sem dan Soepilah laki-laki, diberi nama Fares Kassian, lahir pada 1913. Anak kedua, seorang perempuan, diberi nama Gerardine Iphigenie, lahir 1914. Anak ketiga Samuel Germanicus lahir 1916. Anak keempat diberi nama Sem, lahir setelah kematian ayahnya pada 1918.

Sem meninggal pada 20 Maret 1918. Dikisahkan, Sem sedang menunggang kuda bersama Putra Mahkota Hamengkunegara IV di Alun-alun selatan, daerah tempat prajurit Sultan berlatih, ketika sebuah panggilan terompet membuat kuda Sem panik. Sem terlempar dari pelana. Sem meninggal karena luka dalam dan dimakamkan di pekuburan yang sama dengan ayah dan ibunya.

Kematian Sem menandai akhir usaha fotografi keluarga Cephas. Janda Sem, Raden Soepilah, dengan empat anak kecil yang harus diurus, mengalami masa-masa susah. Rumah di Lodji Ketjil Wetan dijual dan sebuah rumah baru dibangun di pekarangan di belakangnya. Raden Soepilah mendapatkan penghasilan sangat kecil dengan bekerja sebagai jurumasak untuk penguasa yang baru, Kangjeng Sultan Hamengkubuwana VIII. Raden Soepilah hidup jauh lebih lama daripada suaminya. Dia meninggal pada 13 Oktober 1971, cukup lama setelah Indonesia merdeka.

Setelah kematian Raden Soepilah, rumah dan bangunan yang tersisa di Lodji Ketjil Wetan juga dijual. Setelah kemerdekaan, dua anak tertua Soepilah pindah ke Belanda, sementara dua yang termuda tinggal di Indonesia. Pada 1964, pekuburan tempat seluruh keluarga Cephas dimakamkan dipindah karena akan didirikan bangunan. Jasad Kassian dan Dina dipindahkan ke pekuburan Sasanalaya, sebelah timur Jalan Brigjen Katamso. Jasad Sem dipindahkan ke pekuburan Glagah Gadja di Jalan Kusumanegara, tempat Soepilah juga kemudian dimakamkan. ■

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s